
Konawe.info,Unaaha—Lagi-lagi, Keracunan Makan Bergizi Gratis, Kali ini terjadi di Kecamatan Unaaha, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Puluhan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dilarikan ke fasilitas kesehatan. Mereka mengalami sakit perut parah secara bersamaan. Insiden ini diduga kuat disebabkan oleh makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Kejadian ini berlangsung pada Kamis, 25 September 2025. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar di sekolah terpaksa dihentikan lebih awal.
Kasus dugaan keracunan massal ini sontak menjadi perhatian publik. Pasalnya, program MBG adalah salah satu inisiatif unggulan pemerintah daerah. Program ini bertujuan untuk meningkatkan gizi siswa dan menggerakkan ekonomi lokal. Oleh karena itu, insiden ini memicu pertanyaan serius tentang standar keamanan pangan. Ini juga menjadi evaluasi terhadap implementasi program yang menjangkau ribuan siswa di Konawe.
Kronologi Kejadian: Gejala Keracunan Makan Bergizi Gratis
Informasi mengenai kejadian ini mulai terkuak dari kesaksian para korban. Seorang siswa yang tak ingin disebut namanya membenarkan peristiwa ini. “Iya, benar. Hampir semuanya, banyak sakit perut setelah makan MBG di sekolah,” katanya kepada TribunnewsSultra.com. Maka dari itu, kondisi ini memaksa pihak sekolah mengambil tindakan cepat.
Siswa tersebut menambahkan bahwa mereka hanya mengikuti pembelajaran setengah hari. “Sampai pelajaran kedua saja. Tadi habis makan, kami langsung dipulangkan,” ujarnya. Yang mengejutkan, insiden sakit perut yang dialami para siswa ini ternyata tidak hanya terjadi pada hari Kamis. Gejala serupa sudah mulai dirasakan oleh beberapa siswa sejak hari Rabu, 24 September 2025.
Rincian menu makanan yang disajikan adalah sebagai berikut:
- Menu Rabu (24/9/2025): Ayam bumbu kuning, tahu, nasi, sayur, dan semangka.
- Menu Kamis (25/9/2025): Tahu, telur, nasi, sayur, dan semangka.
“Dari kemarin itu, Kak, sudah banyak yang sakit perut. Menunya waktu itu ayam bumbu kuning,” ungkap siswa tersebut. Oleh sebab itu, dugaan awal mengarah pada kontaminasi makanan yang mungkin terjadi sejak hari sebelumnya. Ini menunjukkan adanya masalah serius dalam proses penyediaan atau penanganan makanan.
Penanganan Medis: Lima Siswa di Puskesmas, Lainnya ke RSUD
Pihak otoritas kesehatan setempat segera bergerak cepat. Kepala Puskesmas Unaaha, Mashuri, mengonfirmasi peristiwa dugaan keracunan ini. “Iya, tadi pagi ada lima pelajar yang masuk dan dirawat di UGD (Unit Gawat Darurat),” jelas Mashuri melalui pesan WhatsApp.
Beliau merinci identitas awal para korban yang ditangani di Puskesmas:
- RG (14 tahun)
- NA (15 tahun)
- IC (15 tahun)
- MV (15 tahun)
- HL (15 tahun)
Selain itu, Mashuri juga menambahkan informasi penting. Sebagian siswa lainnya langsung dilarikan ke rumah sakit. “Sisanya dibawa ke rumah sakit,” ucapnya. Hingga kini, awak media masih mengumpulkan data pasti. Mereka ingin mengetahui jumlah total siswa yang terdampak. Juga, mereka ingin tahu berapa banyak siswa yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Konawe. RSUD Konawe berlokasi di Jalan Diponegoro, Kelurahan Tuoy, Kecamatan Unaaha.
Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam Sorotan: Antara Harapan dan Petaka
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu inisiatif krusial dari Pemerintah Kabupaten Konawe. Program ini dipimpin langsung oleh Bupati Konawe, H. Yusran Akbar. Tujuannya sangat mulia: memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup.
Hal ini penting, demi menunjang tumbuh kembang dan konsentrasi belajar mereka. Lebih jauh, program MBG juga dirancang sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan. Ini berarti, dana miliaran rupiah yang dialokasikan akan langsung berputar di tingkat lokal. Dana ini digunakan untuk membeli bahan baku dari petani, peternak, dan pedagang kecil. Dengan demikian, program ini diharapkan tidak hanya menyehatkan generasi muda, tetapi juga menyejahterakan masyarakat.
Sebagai contoh, dalam pemaparan Bupati Konawe sebelumnya, program “Dapur Makan Bergizi Gratis” ini menunjukkan potensi ekonomi yang luar biasa. Disebutkan bahwa satu dapur bisa menghabiskan dana hingga Rp1 miliar per bulan. Jika 33 dapur sudah beroperasi, maka sekitar Rp33 miliar per bulan akan mengalir ke ekonomi lokal.
Namun demikian, insiden dugaan keracunan massal ini menjadi pukulan telak. Ini menyoroti tantangan besar dalam implementasi program berskala masif tersebut. Jaminan kualitas dan keamanan pangan menjadi prioritas utama yang harus dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, penting bagi pihak berwenang untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap semua dapur penyedia MBG.
Menanti Klarifikasi dan Tindak Lanjut
Hingga berita ini disusun, pihak-pihak yang bertanggung jawab belum memberikan keterangan resmi. Kepala Sekolah SMK 1 Unaaha, Kartowiyono, saat dihubungi awak media, belum bisa dimintai komentar. Sama halnya, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Konawe juga belum memberikan tanggapan. Masyarakat dan orang tua siswa tentu sangat menanti penjelasan. Mereka ingin tahu penyebab pasti insiden ini. Selain itu, mereka juga menuntut langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Insiden ini bukan hanya pembelajaran bagi Konawe. Terbukti, kejadian serupa juga pernah terjadi di daerah lain. Wali Kota Baubau, misalnya, menyebut insiden dugaan keracunan siswa di wilayahnya sebagai pembelajaran berharga bagi dapur penyedia MBG. Oleh sebab itu, koordinasi dan pengawasan ketat dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sangatlah mendesak. K
eamanan pangan dalam program yang menyentuh langsung kesehatan anak-anak sekolah harus menjadi prioritas tanpa kompromi. Singkatnya, Kecamatan Unaaha, sebagai ibu kota Kabupaten Konawe yang berjarak sekitar 63,7 kilometer dari Kota Kendari, kini tengah menghadapi ujian serius dalam menjaga kualitas program unggulannya.




